Kamis, 18 Agustus 2011

Keberagaman, Konflik , Kebersamaan

Harmony in Diversity memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan kita. Harmony itu sendiri memiliki arti sebagai suatu keharmonisan atau bisa juga diartikan menjdi sebuah kesatuan. Sedangkan, diversity sendiri memiliki arti Variasi dalam suatu kehidupan ataupun bisa disebut juga dengan keanekaragaman dalam kehidupan. Sehingga arti Harmony in diversity itu sendiri membaur dan berkembang dan memiliki arti  Keanekaragaman dalam kebersamaan atau kesatuan dalam suatu kehidupan didalam suatu masyarakat. Dari sini, kita akan mengambil sebuah contoh yang berhubungan dengan tema kita Harmony in Diversity yaitu Keanekaragaman Budaya karena, Budaya itu sendiri merupakan suatu bagian penting dari konflik serta resolusi dari konflik itu sendiri. Budaya itu seperti sungai bawah tanah yang berjalan melalui kehidupan kita dan hubungan kita dengan masyarakat di sekitar kita, Budaya juga memberikan kita pesan-pesan yang membentuk persepsi kita, atribusi, penilaian, dan ide-ide diri dan lainnya. Meskipun memiliki budaya yang kuat itu tidak menjamin suatu rasa kebersamaan dapat terjalin di dalam sebuah masyarakat. mereka juga sering tidak sadar bahwa, konflik juga dapat mempengaruhi usaha dan upaya untuk menyelesaikan konflik dengan cara yang tak terlihat.

Makna Budaya itu sendiri sesungguhnya melebihi keanekaragaman dalam berbahasa, kebiasaan dalam berpakaian, dan juga kebiasaan dalam memilih menu makanan serta merta kebiasaan dalam berbagai macam hal yang lain-lainnya. Keberagaman dalam budaya dan melakukan suatu hal itu pun dapat kita lihat dalam lingkungan kita sehari-hari. Banyak orang, teman, sahabat, atau bahkan saudara-saudara kita atau pun kerabat-kerabat kita yang mempunyai latar belakang ras, suku atau etnis yang berbeda. Banyaknya keberagaman ini seringkali juga menimbulkan konflik-konflik sosial yang dapat memicu terjadinya perpecahan, baik itu anatr suku, agama, ras dan/atau yang lainnya. Pertanyaan sebenarnya apakah yang menyebabkan banayknya timbul konflik antar suku atau agama dan lainnya? Itu dikarenakan rendahnya kualitas pluralisme dan multikulturalisme masyarakat Indonesia. Secara kualitatif, keberagaman Indonesia cenderung bersifat normatif-apatis. Dalam bahasanya Gutomo Priyatmono, pluralisme yang hadir saat ini di Indonesia adalah multikulturalisme hidup berdampingan (nebeneinender leben) dalam legitimasi statistik; bahwa di Indonesia terdapat budaya lampung, budaya papua, budaya Sulawesi Tenggara dan lain sebagainya dengan manusia-manusia pendukungnya. Namun keberagaman asal dan latar belakang manusia-manusia yang ada di Indonesia adalah pasif, tidak saling tegur, tidak saling menyapa, tidak saling mengerti dan tidak saling memahami. Sikap dingin itulah yang menimbulkan sikap apatis, yang jika bertemu dengan lain suku atau ras, mereka hanya acuh, tak mau saling sapa, sehingga sepirit-sepirit kebersamaan dan persatuan kurang terjalin erat. Selain sikap dengin itu ada faktor lain yang juga meneybabkan terjadinya konflik, yakni karena adanya kepentingan pragmatis pihak tertentu. Hal ini seperti yang tercermin pada konflik mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastama (SETIA) Jakarta Timur dengan penduduk setempat. Konflik seperti ini banyak lebih dipicu oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan sesaat (vested interest). Bukan hanya keberagaman budaya yang menyebabkan konflik-konflik tersebut, tapi ada faktor lainnya seperti faktor ekonomi dan politik.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan keadaan yang harmonis, dalam kerukunan, spirit kebersamaan harus dibangun secara kuat. Keragaman yang ada ini harus dibingkai dalam semangat kebersamaan. Untuk menuju ke arah ini, maka budaya keberagaman lebih harus ditingkatkan sisi kualitasnya dengan mengntensifkan komunikasi atau dialog demi terciptanya budaya saling memahami. Setiap pihak yang berbeda harus senantiasa membuka diri terhadap yang lain (the others) . Dengan kesadaran semacam ini, maka semangat toleransi, tenggang rasa dan hormat-menghormati akan lebih mudah dibangun.Selain itu, masyarakat Indonesia yang berbeda ini juga harus kritis terhadap usaha-usaha pihak lain yang mencoba mengusik atau memecah belah semangat kebersamaan dan keberagaman masyarakat. Masyarakat tidak boleh mudah terhasut atau terprovokasi oleh usaha-usaha pihak-pihak bermental pragmatis-kapitalistik yang mempunyai agenda tersembunyi (hidden agenda) untuk mewujudkan ambisi sesaatnya melalui penciptaan konflik dan kekerasan antar masyarakat.

dwi febrianto
baghdad
kelompok 8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar